Peti Mati Kekasihku – Monolog

Sebuah Monolog Karya Halim Bahriz

Monolog: “Dulu, kita pernah berada di tepian terjauh sebuah jarak, kau berlarian disepanjangnya, mulutmu memberi isyarat jika kau sedang berteriak-teriak, menyampaikan sesuatu padaku, entah tentang apa, aku hanya mampu sedikit menebak jika kau sedang bekerja keras mengertikan hal penting padaku. Tapi hal itu lenyap diantara jarak yang begitu jauh. Apalagi di tepiku terlalu riuh, di sini terlalu bising, aku melihatmu tapi aku tak bias mendengarmu. Kau tak ingat semua itu? Awal perjumpaan kita.

 

Sayang, kenapa kau diam? bukankah jarak telah sepakat kita jadikan mayat, bicaralah, teriaklah, sekeras-kerasnya, sejadi-jadinya. Kekasihku, Kekasihku, Kekasihku … Setelah begitu dekat, kenapa kau jadi membisu. Jika kau tak mampu lagi berteriak, berbisiklah, di tempat sunyi begini bisikmu tentu akan terdengar, tentu akan sempat kudengar.

Sayangku, berbisiklah, kita telah di tepi yang sama. Sebelum sama-sama kita berangkatkan keinginan kembali hidup di kota. Bukankah kau ingin sekali memperdengarkan suaramu di banyak tempat di kota? Kau masih belum lupa bukan, jika di kota itu sangat bising. Berbisiklah saying. Rasanya sudah sangat lama tak mendengar mesrah suaramu, apalagi degup kemarahanmu yang selalu membuatku berpulang pada kesadaran memperbaiki diri dan memperbaikkan yang tidak baik. Berbisiklah sayang, kita tak akan pernah bias menjalin hubungan dalam diam begini.

 

download

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*